Perjalanan wisata saya menelusuri sudut wilayaha belitong memang tidak ada habisnya, sore hari yang cerah saya sampai di pantai Burung mandi belitong timur, pantai dengan garis pasir putih yang indah di tambah tersedianya tempat untuk duduk santai di tepi pantai membuat saya betah berlama-lama memandangi birunya lautan.

Ada yang menarik ketika saya di pantai, seorang bapak bertanya “kamu dari mana? ” Lantas saya jawab dari jakarta, “kamu datang kesini sendiri saja? “ Saya jawab iyah sendiri, ngobrol pun berlanjut dan saya di beritahu ada sebuah vihara di atas bukit sana, coba kamu tengok kesana.

Vihara bernama Buddhayana atau lebih di kenal vihara Kwan Im memang sudah terkenal sejak ratusan tahun silam, vihara yangmenjadi tempat ibadah umat Kong Hu Cu Tiong Hoa ini, tak jarang mereka datang jauh-jauh untuk beribadah disini. Vihara ini menurut catatan didirikan sekitar tahun 1747 oleh saudagar cina. Letaknya yang unik di atas bukit berbatuan besar menjadi ciri tersendiri, konon letak vihara ini mengikuti kiblat pusat kuil yang ada di Tiongkok, sebagai lambang Dewi Kwan Im yang selalu melindungi setiap pelayaran para saudagar cina yang mendarat diwilayah tersebut.

Waktu saya tiba di vihara banyak rombongan anak sekolah SMU dari pusat kota belitong berkunjung kesana, sekalian dengan mereka saya melihat-lihat tiap sudut vihata tersebut, Bangunan serba merah di hiasi lampion yang tergantung di tiap atap, berbagai ornamen tulisan bahasa China dan sebuah batu besar di belakang Vihara.

Memasuki ruangan vihara aroma dupa dan cahaya lilin berbagai ukuran menerangi sudut ruangan yang sedikit gelap cahaya nya. Saya mencoba untuk mencari tau, kalau di vihara ini bisa meramal peruntungan. Setiap musim Ceng Beng atau ziara kubur banyak juga yang datang untuk ziarah sekaligus meramal peruntungan, banyak mereka yang mempercayai peruntungan dari vihara ini.

Ada 61 batang bambu yang di taruh di wadah panjang, batang bambu di kocok/dijatuhkan dan batang bambu yang terpilih dicocokan dengan sepasang batu buka tutup, jika batu buka tutup di jatuhkan dengan posisi buka dan tutup berarti bambu yang di pilih sudah cocok. Selanjutnya pengunjung mengambil Ciam Si atau kertas sesuai dengan nomor yang ada pada batang bambu tersebut, tulisan dikertas itu berisikan ramalan kesehatan, karier, jodoh atau peruntungan yang di minta.

Saya mencoba peruntungan nasib saya, tapi setelah saya mau mengocok batang bambu……tiba-tiba preeetttttt…………..ternyata listrik padami, penerangan di dalem vihara jadi gelap, cahaya lilin tak mencukupi untuk melanjutkan ramalan, sayapun kecewa. Akhirnya saya duduk di teras luar viharamemandang hijaunya pepohonan .

Saya sempat berbincang-bincang dengan sang juru kunci vihara tersebut, orangnya ramah dan banyak membantu setiap pertanyaan yang saya tanyakan dia jawab dengana baik.

Ketika saya bertanya :

‘apakah setiap hari disini mati lampu ? ‘

“tidak sering tapi selalu mati hehehe, kadang kalau mati sangat mengganggu ibadah sedang berjalan”

‘yah berdoa saja pak, siapa tau nanti akan ada Donatur yang mau menyumbangkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya dan Angin biar tidak tergantung pada energy dari negara, lokasi ini cocok di atas bukit banyak angin nya’

“amiieen semoga saja dikabulkan, biar ibadahnya tidak terganggu”.