Pernah mendengar nama buah carica ? itu loh jenis buah seperti pepaya kecil yang hanya tumbuh di dataran tinggi di ketinggian 1500 – 3000 meter di atas permukaan laut. Buah ini ini konon berasal dari daerah Andes Amerika Selatan. Pepaya gunung atau dikenal dengan nama latin Vasconcellea cundinamarcensis banyak tumbuh di wilayah Dieng Wonosobo Jawa Tengah dan daerah Bali. Carica banyak di jadikan buah tangan khas wonosobo dalam bentuk manisan, karena disamping rasanya manis dan legit harganya pun tidak terlalu mahal.

Dalam perjalanan saya menuju dataran tinggi dieng, saya berkesempatan untuk mencari lebih jauh tentang cara pengolahan buah carica ini. Berbekal informasi dari teman yang memang mengetahui wilayah tersebut. Sampailah saya di sebuah rumah dua tingkat yang menjadi home industri pengolahan buah carica. Rumah tingkat yang saya masuki saya kira seperti salon, karena tertulis spanduk SALON, ternyata pengolahan carica nya berada di rumah sebelahnya. Ketika saya masuk ke ruangan tersebut tampak banyak buah-buah carica berserakan mulai dari yang masih hijau sampai yang sudah menguning.

Ibu Saroji pemilik usaha ini mempersilahkan kita masuk dan bertanya-tanya tentang pengolahan buah carica, saya disuguhi manisan carica hasil olahannya yang siap jual. Setelah mecicipi kami bergegas menuju ke sebuah ruangan yang menjadi tempat pengolahan, disana sudah ada 2 orang wanita bertugas mengupas buah carica. Cara mengupas buah carica juga harus hati-hati karena getah dari buah ini bisa membuat tangan gatal-gatal. Buah carica mentah di kumpulkan Ibu Saroji dari petani dengan membayar sebesar Rp 5.000 – 6.000 per kilonya.

Buah yang sudah masak memiliki warna kekuningan, setelah buah di kupas bersih buah kemudian di potong dua, biji nya di kumpulkan terpisah di sebuah wadah. Hasil potongan buah yang telah di buang biji nya lalu di rendam di cairan garam, gunanya untuk menetralisir getah dan mebuat kenyal buah nya. Setelah di rendam selama 2 jam buah di cuci dengan air bersih. Selanjutnya proses pencampuran buah dengan rebusan air gula yang sudah di didihkan, proses ini berlangsung 1 jam, kemudian buah dimasukan ke dalam wadah botol selai beling ber ukuran 350 gram. Selanjutnya proses pen steaman selama 2 jam dan buah siap di label untuk di masukan ke kardus.

Dalam sekali produksi menghasilkan 400 buah botol membutuhkan waktu satu hari. Jika sedang ramai permintaan ibu Saroji tidak dapat memenuhi permintaan pelanggannya, kerena terbatasnya suply buah dari petani, karena jarang petani menanam buah carica. Dalam wilayah Dieng sendiri cuma ada 3 industri rumahan sejenis. Dalam bisnisnya Ibu Saroji membuat bermacam-macam penganan mulai dari kripik kentang, kripik usus dan kripik jamur serta tak lupa minuman khas dieng Purwaceng yang di khususkan untuk pria sebagai minuman vitalitas.